Uncategorized

Forbidden

img_20160325_000151.jpg

 

“Ketika perjalanan yang menakutkan menumbuhkan benih cinta”

Apa kau percaya pada hantu? Mungkin pertanyaan itu sering sekali dilontarkan sebagian besar orang, mungkin juga kau punya banyak sekali teori tentang itu, namun bagaimana dengan opinimu sendiri?
Lalu bagaimana dengan dimensi lain? Apa kau percaya dimensi lain itu ada? Aku yakin, kau pasti tahu banyak teori tentang dimensi lain ini, tapi sekali lagi aku bertanya padamu, bagaimana menurutmu?

     •••

Kalau tidak ingin ambil pusing pada hal yang kurang penting dan membosankan ini, sebaiknya kau tidak membaca kisah ini.

Baiklah, karena kau terus lanjut membaca, perkenankan aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu.

Hai, namaku John, setidaknya kau bisa memanggilku begitu. Aku bukan anak lelaki dari keluarga yang kaya, hidupku cenderung keras. Tinggiku berukuran normal, dan wajahku cukup dapat memastikan kalau aku akan dapat pendamping hidup, tunggu.. Omong-omong soal pendamping, ah sudah lupakanlah

Saat ini aku duduk di kelas 3 di sebuah Sekolah Menengah Atas favorit di kota kecil yang menyimpan banyak misteri. Aku cukup aktif dalam kegiatan organisasi di sekolahku ini, sehingga memungkinkan aku untuk mengakses tiap sudut sekolahku, kecuali sebuah ruangan di bawah tangga menuju lantai 3 itu.
Kau tahu apa cita-citaku sebelum aku lulus? Tentu kau tidak tahu karena aku belum mengatakannya, baiklah cukup menertawakanku! Aku selalu ingin memasuki ruangan tersebut, dan mencari tahu apa yang ada dibalik pintu kayu usang tersebut.

Kelas 1, kelas 2, kelas 3 semester 2. Ya, telah sekian lama aku berada di sekolah ini, dan tidak ada sesuatu yang aneh sampai pada hari ini

•••

Lampu lorong kelas sudah dipadamkan, tawa canda murid-murid terdengar semakin jauh, aku berjalan sendiri menuju ruang penyimpanan alat- alat olahraga.
Dentingan alat musik itu, sungguh menenangkan hati. Biar kuberitahu kau sesuatu, aku dapat langsung mengubah suara menjadi notasi.
“Do mi re mi fa la si sol do”
Suaranya begitu merdu, tanpa sadar kakiku melangkah mendekati sumber suara tersebut. Aku tak tahu kemana kakiku melangkah, aku semakin terbuai dan akhirnya aku sampai pada sebuah ruangan yang tak asing bagiku. Ruang musik.

Mataku menyapu ruang musik dengan cepat, dan berhenti di suatu titik. Gadis cantik, wajahnya yang mungil, kulitnya yang putih namun agak pucat, rambutnya terjuntai sebahu menambah apik parasnya, jemarinya yang lentik memetik sebuah alat musik yang asing bagiku. Dia bukan salah satu siswa disini, Ia tidak mengenakan seragam.
“Hei, siapa kau?” Pertanyaan itu terlontar dengan nada tinggi, campuran dari rasa heran, kagum, dan sedikit takut.
Ia menengadahkan kepalanya dan memandang tepat ke bola mataku.
“Bukankah itu tidak sopan bertanya pada seseorang yang bahkan belum kau tanya namanya?” Jawabannya begitu diplomatis, aksennya menunjukkan bahwa dia bukan dari kota ini.
“Benar juga, maafkan aku, namaku John, setidaknya kau bisa panggil aku begitu,dan kau?” Aku menyunggingkan senyum lebar tanda persahabatan padanya, dan mengulurkan tangan.
“Phantasm, setidaknya engkau bisa memanggil saya demikian” ia tampak kebingungan melihatku mengulurkan tangan, namun akhirnya kami berjabat tangan.

•••

“Tolong, jangan! Ayah.. Ibu..! Jangan bawa mereka! biadab kalian semua! Pergi.. Pergi.. Pergi kataku!”

“Tahu apa kau anak kecil? Kau ingin pergi juga menyusul mereka? Baiklah, akan kukabulkan permintaanmu”

“Tidak.. Tolong lepas! Jangan ganggu aku, apa salahku sampai kalian memperlakukanku begini?”

“Hahahaha, kau mau tahu? Karena kau berbahaya, Fantine”

“Apa maksudmu? Argh.. Sesak sekali.. Tolong.. To…….”

Reflek aku melepas jabatan tangan Phantasm dengan kasar saat aku mendengar, setidaknya mungkin kata itu yang paling cocok, sepenggal percakapan tadi. Siapa Fantine? Apa ini ada hubungannya dengan Panthasm?

“Maaf, Phantasm. Bagaimana kau bisa sampai disini?”

“Entahlah, saya tidak pernah ingat apapun sejak saya sampai di tempat ini” wajahnya muram, bunga-bunga disekitar kami melayu seperti dapat merasakan apa yang dirasa Panthasm

“Eh, maaf kalau begitu.. Kalau begitu, dimana kau tinggal? Sudah berapa hari kau disini?”

“Hari? Apa itu hari? Tempat ini begitu janggal, aku ingin pulang”

“Dimana rumahmu?” Aku semakin tak mengerti.

“Keltia, ya rumahku disana”

“Bisa kau ceritakan padaku, Phantasm?”

•••

Keltia, negri yang aman dan damai, tiada air mata, tiada dusta, tiada dengki, tiada pengkhianatan. Keltia dikelilingi lautan yang amat luas. Kami selalu bermain, berkejaran tiada lelah, tiada apapun yang membatasi kami. Ratu begitu jelita dan setiap insan menyukainya.

Udara yang dipenuhi keharuman pohon krysole tiada pernah membuat kami bosan. Pohon krysole.. Ah,pohon itu, pohon yang telah ada sejak sebelum aku diciptakan. Pada pohon tersebut terukir guratan-guratan yang tiada satupun orang dapat menafsirkannya.

Setidaknya, aku tak dapat membayangkan tempat yang lebih indah daripada Keltia, tetapi sekarang aku tidak lagi berada di Keltia, aku ingin kembali.

•••

Ya, ini memang aneh. Phantasm, dia bukan berasal dari dunia yang sama denganku. Aneh, tapi ini semua nyata. Haruskah aku membantunya untuk pulang? Atau, haruskah aku membiarkannya?

Matahari senja bersinar indah, aku dan Phantasm menatapnya bersama.
“Phantasm, dimana kau akan tinggal hari ini?”

“Entahlah, mungkin aku akan tinggal disini”

“Ayo ikut aku, kau bisa tinggal bersamaku.”

Belum selesai kami berdiskusi, sebuah kertas terbang dan jatuh tepat dikakiku. Sebuah puisi pikirku. Otakku berusaha keras mengartikan tiap larik dalam puisi tersebut, namun, semakin lama puisi ini semakin mirip dengan ramalan yang pernah kubaca dalam novel.XXX

“Kerajaan terasing, ratu yang jelita
Tiada dusta, perih, duka, lara
Iri timbulkan petaka
Hati tulus dapat hapuskannya

Dua akan kembali
Membawa harapan yang hampir mati
Kembali dalam bahaya dan misteri
Pulihkan ingatan yang tersembunyi

Kerja sama akan terasa sulit
Keberanian kalahkan si jahat”

Kira-kira itulah arti dari puisi atau mungkin ramalan yang aku baca barusan, karena ditulis dalam bahasa Inggris, sayangnya hanya sebagian yang kudapat, entah sebagian lagi dimana.

Saat kami berjalan melalui koridor, sesuatu membuatku menghentikan langkahku. Ya, tersengar suara dari ruang di bawah tangga. Kuberanikan diriku dengan Phantasm disampingku yang juga seperti tersihir mendengar bunyi tersebut, kami melangkah mendekat dan berpandangan satu sama lain.

Kurang lebih lima menit kami hanya berdiam diri, sebelum aku mendorong pintu tersebut dengan perasaan yang tak karuan. Pintu tersebut terbuka, dan menunjukkan sebuah teka-teki kurasa

Not balok, pintu tersebut meminta sebuah kode yang terdiri dari not balok. Aku dan Phantasm kembali berpandangan, lalu Phantasm mengangkat alat musiknya dan memainkan nada yang konstan, jemariku bergerak memasukkan not balok yang dimainkan Phantasm
“Do mi re mi fa la si sol do”
Krek…
Pintu terbuka, mata kami menyapu ruangan. Sepertinya ruangan ini adalah gudang sekolah yang sudah lama tidak dibuka, debu bertebaran menyesakkan jalan nafas kami. Dari kejauhan, kulihat benda yang tertutup kain dan bergerak. Phantasm mencengkram lenganku, seketika itu juga aku menoleh kearahnya. Wajahnya pucat, dia terlihat sangat kepayahan memegangi kepalanya, seperti ada sesuatu yang hendak meledak.

“Phantasm, kau kenapa?” Tanyaku khawatir
“Kepalaku sakit sekali, aku tidak apa-apa, kita harus melihat benda itu”
“Baiklah, pegangan padaku”

Phantasm tidak menjawab, matanya terus tertuju pada benda tersebut. Aku memapahnya sambil terus berwaspada akan setiap kemungkinan yang ada seperti lantai kayu yang sudah usang ini akan roboh, namun itu tidak terjadi hingga kami berdiri tepat dihadapan benda tersebut

Phantasm menghela nafas sebentar dan dibukanya kain penutup benda tersebut.

Kalau aku bukan seorang lelaki, mungkin aku akan berteriak dan kabur layaknya anak kecil yang menjerit akibat melihat serangga. Dibalik kain tersebut terkulai lemas seorang wanita, mungkin. Dari penampilannya aku bisa katakan bahwa ia adalah ratu, mahkota berwarna hijau masih melekat pada kepalanya, namun badannya penuh luka-luka. Belum selesai aku mendeskripsikan wanita ini, Phantasm berbicara dengan nada panik

“Ratu? Mengapa kau disini? Apa yang terjadi padamu?”

“Kau kenal dia, Phantasm?” Tanyaku yang tidak dijawab olehnya

“Ratu! Katakan padaku mengapa tubuhmu penuh luka seperti ini?”

“Syukurlah Phantasm kau menemukanku. Aku dikutuk oleh Harish, penyihir yang selama ini bertekad menghancurkan Keltia. Sekarang, aku butuh bantuan kalian untuk memulihkan kembali Keltia. Waktuku tak banyak, ajal sudah menantiku. Syukurlah kau dapat menemukanku sebelum semuanya bertambah parah, dan kau, tolong jaga Phantasm, dialah yang akan menggantikanku. Sekarang pergilah ke lantai bawah, disana ada mesin yang digunakan Harish untuk membuangku kemari. Ini, ambilah sebuah belati untukmu, dan peluit ini, pakailah saat keadaan darurat. Pergilah se..karang.. Aku tak dapat.. Ber.. Bertahan lebih lam.. Lama.. Lagi”

Wanita tersebut pingsan, dan ia terlihat 10 tahun lebih tua dari sebelumnya. Kulihat Phantasm menitikkan air mata, lalu bangkit dan segera berlari ke lantai bawah,

“Hei, tunggu! Ratu menyuruhku untuk men..”

“Diam! Saya tak butuh bantuan anda, apa yang anda tahu tentang Keltia! Tinggal…” Tubuhnya terhuyung lagi, refleks aku menangkapnya

“Sudah kubilang, kau perlu aku, izinkan aku untuk ikut bersamamu, ya?”

“Baik, jangan kacaukan semuanya”

   •••

Keltia, ah negri yang aman, damai, dan tentram. Kini telah berubah menjadi kerajaan kegelapan. Makhluk yang dahulu dapat bicara, berlari, dan bernyanyi, kini tidak lagi dapat melakukannya. Harish, raja Keltia yang sekarang, telah mengubah Keltia menjadi tempat yang mengerikan. Warna warni bunga, hijaunya daun, birunya laut, dan harumnya pohon Krysole tidak lagi ada. Pohon Krysole sedang meregang nyawa, sama seperti sang Ratu.

Brak…
“Phantasm, kau baik-baik saja? Maafkan aku karena mendaratkan pesawat ini dengan kasar, aku belum pernah mengendarai ini sebelumnya.”

“Ya, aku baik saja, tempat apa ini? Keltia? Tidak mungkin! Tempat ini begitu mengerikan, tapi.,” ,matanya menyapu pemandangan mengerikan disekeliling kami, “ya, ini adalah Keltia. Itu, itu adalah pohon Krysole. Ayo cepat turun.”
Aroma kekejaman, penderitaan, kebencian, dan iri hati tercium. Dedaunan seakan menjerit ketakutan. Teror terjadi di tempat ini. Phantasm kembali menitikkan air mata, namun ia cepat menghapusnya sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun. Phantasm memang gadis yang tegar, dia sangat mengagumkan.

Belati di tanganku berpendar, mengapa? Tanyaku dalam hati. Saatku berbalik, semua pertanyaanku terjawab. Phantasm dalam bahaya, seekor singa, mungkin, dengan bulu keemasan yang berkilau, dan ekor yang begitu menakutkan, siap menembakkan duri padanya.

Tanpa dikomando, segera kudorong Phantasm menjauh dari maut tersebut, dan kurasakan sesuatu menembus bahuku. Rasa nyeri menjalar melumpuhkan tangan kiriku. Namun saat kulihat Phantasm dalam bahaya, entah dari mana kekuatan yang kuperoleh, kucabut belati pemberian ratu dari sarungnya, dan dengan kekuatan terakhirku, kutancapkan belati tersebut tepat di matanya.

Singa tersebut meraung-raung, begitu juga dengan rasa sakit yang makin berkecamuk ini. Kucabut duri yang menancap di bahuku, dan kutusukkan pada perut sang singa, dan seketika itu juga, sang singa menghembuskan nafas terakhirnya.

 •••

“Tidak! Jangan rusak Keltia!”

“Diam kau anak ingusan! Aku takkan membiarkan kau merusak impianku selama ini”

“Tidak mau! Jangan paksa aku, aku tidak mau minum! Ah, sakit sekali! Kepalaku seperti terbakar”

“Anak manis, sekarang kau tak akan menghalangiku, Fantine”

Aku berusaha membuka mataku, ternyata hanya mimpi. Phantasm memegang erat tanganku, pantas saja aku mendengar percakapan tadi. Tunggu, siapa Fantine? Bukankah gadis didepanku bernama Phantasm?

“Ini adalah rumah ketua kaum Toulse, jangan takut, Harish memang keterlaluan! Kita harus bergegas untuk mengembalikan Keltia”

“Toulse? Apa itu? Apa yang sebenarnya terjadi, dan aduh.. Apa yang terjadi pada tanganku?”

“Toulse adalah sebuah kaum yang telah lama meramalkan kehancuran Keltia, kita harus segera bergegas ke istana Harish, dan tanganmu..” Phantasm menghentikan ucapannya sebentar yang lalu disambung oleh ketua kaum Toulse.

“Tanganmu akan baik saja, kau punya jiwa pemberani. Waktu sang ratu tinggal 5 hari lagi, ini ambillah, kau akan membutuhkannya untuk menyelesaikan tugas terakhirmu. Ramalan itu akan menuntunmu”

“Baik, ayo kita pergi sekarang kalau begitu, Phantasm. Terimakasih pak Toulse.”

“Tunggu, anak manusia. Ingat, untuk mengalahkan kuasa kegelapan diluar sana, kau harus membunuh rasa takutmu terlebih dahulu.”

Aku tercengang mendengar perkataan ketua kaum Toulse tersebut. Aku hanya dapat mengangguk. Aku dan Phantasm keluar dari rumah kecil berbentuk unik tersebut, dan bersiap menghirup kengerian di udara Keltia.

  •••

Apa kau suka petualangan? Aku suka sekali petualangan, aku punya hampir puluhan game tentang petualangan. Namun kali ini aku tak sependapat, jika kau dihadapkan pada petualangan berbahaya dan dapat merenggut nyawamu sendiri, maka itu tidak akan menyenangkan. Disini akulah peran utamanya, tidak ada tombol reset, ataupun continue seperti di game, yang ada hanyalah satu nyawa yang harus menyelamatkan sebuah dunia, hebat bukan? Persis seperti di game, namun ini adalah kenyataan.

“Hei, John. Terimakasih sudah menyelamatkanku, singa yang tadi menyerangmu, sebenarnya dia adalah peliharaan ratu yang diracuni oleh Harish sehingga menjadi seperti itu. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Eh emm.. Tidak ada, harus kemana kita sekarang?” Aku berusaha menutupi kegugupanku.

“Menurut kaum Toulse, cara tercepat menuju istana Harish adalah melewati sungai Drylene, lalu melewati kota Zygror, lalu kita akan sampai.”

“Baik, mari kita selesaikan semua ini, waktu kita tidak banyak.”

Singa yang menyerangku, bukanlah akhir dari kengerian ini, melainkan hanyalah awal. Saat kami mulai mendayung melintasi sungai Drylene, belatiku berpendar lagi. Aku mengawasi sekeliling kami, alih-alih akan ada ikan hiu yang keluar dan menelan kami. Mataku menyapu sekitar. Pandanganku bertumpu pada sosok yang begitu indah. Phantasm berada didepanku berusaha meraihku dalam pelukannya, jantungku berdegub kencang, namun sedetik kemudian pemandangan indah didepanku berubah menjadi pemandangan yang mengerikan disusul dengan teriakan kesakitan dari sebuah makhluk bertubuh perempuan buruk rupa, dan bagian bawah tubuhnya merupakan buntut ikan.

Phantasm, dialah yang membunuh makhluk itu dengan belatiku.
“Jangan terkecoh oleh Siren, mereka merayu dengan memberikan gambaran tentang sosok yang kau cintai, begitu jarakmu cukup dekat, kau akan menjadi santapan mereka.” Katanya sambil memasukkan sumbat telinga agar kejadian yang sama tak terulang kembali. “Sosok yang kau cintai” apa, apa aku mencintai Phantasm? Tidak penting membahas tentang perasaan dalam keadaan seperti ini. Lagipula, Phantasm seperti membenciku. Satu hal yang kusadari, kerja sama sangatlah penting.

Hujan rintik-rintik menambah dinginnya malam di Keltia. Tepat disampingku, meringkuk seorang gadis. Oh andaikan ini bukanlah perjalanan mengerikan, aku pasti akan sangat bahagia.

“Keltia tidak pernah mengalami yang kau sebut hujan, dan malam sebelumnya. Malam begitu gelap, dan hujan begitu dingin.”
“Tenang, tidurlah aku akan berjaga-jaga disekitar sini.” Kataku dengan nada meyakinkan.

Phantasm bergelung didalam mantel yang kuberikan padanya dan begumam lirih “terimakasih”. Senyum tipis mengembang di bibirku mengiringi tidurnya Phantasm.

Untungnya aku masih memiliki beberapa butir permen kopi, permen ini akan membantuku menyuntikkan kafein kedalam tubuhku sehingga memungkinkanku berpatroli dengan nyaman.

Bahuku terasa berdenyut-denyut. Tercium bau tak sedap dari lukaku. Kubuka perbanku dan busa berwarna hijau menghiasi sekeliling lukaku. Sedikit terkejut dan ngeri, aku membasuh lukaku di danau sekitar. Tak berapa lama, air danau tersebut berubah menjadi hijau. Aku melangkah mundur untuk memastikan jarakku cukup jauh daripadanya. Didalam benakku hanya berkelebat pertanyaan “apakah ini kutukan?”

•••

Fajar mulai menyingsing, ternyata perputaran hari di Keltia tidaklah sama seperti diduniaku. Aku menceritakan kejadian tadi pada Phantasm dan ia hanya meringis mendengar ceritaku sepanjang perjalanan menuju kota Zygror. Namun tanpa kusadari, setiap rasa sakit yang kualami tidaklah seburuk itu.

Ketika kami tiba di gerbang kota Zygror, Phantasm mematung. Wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak menyukai kondisi ini.

“Percaya, dan kau akan melihat. Berhati-hatilah, tersesat dalam impianmu” Ada sebuah guratan samar pada sebuah penunjuk jalan disini, tentunya menggunakan bahasa inggris. Sepertinya tidak ada tanda bahaya, belatiku tak berpendar sedikitpun.

Kami berdua berjalan menyusuri kota Zygror. Burung Serpenth, yang begitu mirip dengan gagak di duniaku mengeluarkan suara yang membuat adegan ini hampir sama dengan adegan dalam cerita horror di film.

Bisa kukatakan kalau kota Zygror dipenuhi dengan kaca-kaca usang yang menambah kebingungan akan dimana jalan keluar. “Percaya, dan kau akan melihat” tiba-tiba kalimat itu bergaung ditelingaku. Aku berhenti didepan sebuah cermin, dan aku melihat sesosok gadis kecil bersama kedua orang tuanya, dan disusul oleh kejadian mengerikan.

Suka tak suka aku melihat, menyaksikan, dan sekarang aku mengerti. Keltia sedang berusaha menjelaskan apa yang tengah terjadi. Fantine, adalah Phantasm dan Ratu adalah ibunda dari Fantine, Harish lah yang telah meracuni pikiran Phantasm sehingga ia lupa akan semuanya.

“Phantasm! Dimana kau? Kini aku mengerti mengapa kau tak dapat mengingat siapa dirimu!” Aku berseru berharap mendapati sosok Phantasm, tapi aku tak menemukannya. Aku berlari, sepanjang pencarianku, aku melihat begitu banyak makhluk yang berdiri seperti orang bodoh didepan cermin memandangi impian terindahnya. Mereka semua tersesat dalam impian mereka.

Ah! Disana Phantasm, sama seperti yang lain. Memandang tepat kearah cermin tak bergeming sedikitpun. Kudengar samar-samar Phantasm bergumam, “John, jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu.” Jantungku terasa hampir berhenti, namun waktu kami tak banyak. Masih ada tugas yang lebih penting.

Aku mencari ide untuk mengeluarkan kami dari kota terkutuk ini. “peluit ini, pakailah saat keadaan darurat.” Sepertinya Ratu mengingatkanku akan peluit itu. Kutiup kuat-kuat peluit yang tergantung di leher Phantasm, dan seketika itu juga, semua kaca di kota Zygror pecah. Semua makhluk tersadar dari sihir ini.

Kutatap wajah pucat Phantasm. Ternyata, dia juga memiliki perasaan yang sama padaku. Aku harus melindunginya dari apapun juga.

Sisa hari itu, aku berusaha menjelaskan tentang ingatan Phantasm yang hilang, dan ia tampak sedikit demi sedikit mulai memahami yang sebenarnya, namun setiap cerita yang kusampaikan membuat kondisinya semakin lemah. Hari sudah berganti malam lagi, kami beristirahat di dekat Pohon Krysole yang daunnya hampir habis, sama seperti waktu kami yang hampir habis.

•••

“Pohon Krysole tidak pernah terlihat seburuk ini,” Phantasm berjalan sambil mengelus kulit pohon yang sedang meregang nyawa tersebut, “andai saja guratan itu tidak hilang, dan ada yang dapat mengartikannya, Keltia pasti akan selamat.”

“Guratan apa? Apa ada hubungannya dengan yang dikatakan pak Toulse?” Aku mengeluarkan botol dengan cairan berwarna ungu dari saku bajuku.

“Hei! Darimana kau dapatkan itu? Oh tentu saja ketua kaum Toulse itu yang memberikannya, sejak awal dia begitu mempercayaimu, ah sudah, cepat waktu kita tak banyak. Oleskan dibagian ini, disinilah tempat guratan itu ada semestinya”

Tanpa banyak berkata, kuoleskan cairan berwarna ungu tersebut. Tanganku terasa panas, muncul guratan-guratan yang cukup panjang pada kulit pohon ini. Aku mengamati dengan saksama, ‘bahasa inggris’ pikirku. “Ya, selama ini tidak ada yang dapat mengartikannya karena..”

“Kerajaan terasing, ratu yang jelita
Tiada dusta, perih, duka, lara
Iri timbulkan petaka
Hati tulus dapat hapuskannya

Dua akan kembali
Membawa harapan yang hampir mati
Kembali dalam bahaya dan misteri
Pulihkan ingatan yang tersembunyi

Kerja sama akan terasa sulit
Keberanian kalahkan si jahat
Dengan cara yang tepat
Keltia akan selamat

Bunyi sangkakala tanda perang ditiupkan
Darah anak manusia harus ditumpahkan”

Aku mengartikan bait demi bait guratan yang muncul, Phantasm tidak bisa berkata apa-apa karena terlalu kagum kurasa. Sebelum kami sempat mengatakan sepatah kata pada satu sama lain, bunyi yang begitu keras terdengar. Entah bunyi terompet atau ledakan, namun bunyinya sangat memekakkan telinga.

Aku yakin kau pasti tak ingin menyaksikannya, baiklah akan kucoba menjelaskannya. Pertama, langit terbuka, dan kulihat beratus mungkin beribu kepakan sayap hitam turun dari langit, dan ada sebuah lengkingan hebat dari istana Harish

“Kalian bocah ingusan, beraninya kalian merusak maha karyaku! Sekarang, genderang perang telah kau tabuh, rasakan akibatnya! Aku akan membunuh kalian sebelum matahari terbit”

Belati di tanganku yang sedaritadi kugenggam erat-erat mulai berpendar, kali ini bukan berwarna biru, tetapi berwarna hijau. Lengan kiriku ikut berpendar. Ada rasa takut, namun kucoba beranikan diri. Ini bukanlah saat yang tepat untuk takut.

“Untuk mengalahkan kejahatan diluar sana, kau harus membunuh rasa takutmu terlebih dahulu.” Perkataan pak Toulse berlarian dibenakku, ya aku yakin, inilah akhirnya, dan aku akan segera mengakhiri kesengsaraan Keltia.

Harish berdiri dihadapan kami, dua sosok anak kecil yang hanya membawa sebuah belati dan peluit. Sungguh pemandangan yang ironis.

“Senang berjumpa lagi denganmu pengganggu kecilku, Fantine. Oh lihat, sekarang kau membawa seorang kekasih!” Ejek Harish padanya

“Diam, kau tidak dapat menyembunyikan ingatanku selamanya!” Wajah Phantasm, setidaknya aku akan tetap memanggilnya Phantasm sampai ingatannya pulih, berubah merah padam. Dengan gegabah, Phantasm berlari dengan kecepatan tinggi, aku belum pernah mengetahui kemampuannya yang satu ini, dan meninju Harish tepat di hidungnya.

Kupikir semua akan beres, namun aku salah. Harish mendapatkan Phantasm. Sekarang tinggal aku seorang diri untuk menyelamatkan semuanya. Sungguh indah, bukan?

“Oh, Fantine, sikapmu tidak pernah berubah sejak dahulu. Aku ini ayahmu, tidak sopan jika kau meninjuku!” Harish meninju Phantasm hingga dia terpental cukup jauh, disana ada seekor, mungkin aku akan menyebutnya tiga ekor ular karena sesungguhnya badan mereka satu, namun kepala mereka bercabang tiga.

“JANGAN SAKITI DIA!” Aku berteriak cukup kencang sampai-sampai Harish terdiam sebentar.

Phantasm meronta sambil melontarkan sumpah serapah, “bermimpilah kau penyihir jahat! Kau bukan ayahku. Ayahku tidak akan menyakitiku!”
Lagi-lagi, Harish menampar pipi Phantasm. Darah segar mengalir dari bibirnya yang mungil.

“Sekali lagi kukatakan padamu! Jangan berani-berani sakiti dia!” Aku berteriak dengan penuh amarah , berlari dan meninju Harish tepat di punggungnya.

“Sangat mengagumkan, hai anak manusia, waktumu telah habis. Kau sudah membawa perubahan yang membahayakan bagi posisiku. Kau harus mati.”

Belati ditanganku berpendar makin terang. Aku takut, Phantasm apakah dia akan baik-baik saja? Apa aku bisa mengalahkan Harish? Tiba-tiba aku merasakan sesuatu memberontak dalam diriku. Gejolak yang tak pernah kurasakan, saat melihat Phantasm dalam bahaya.

“Kalau kau mau, ambillah darahku, tapi jangan sakiti dia, lepaskan dia!” Kalimat tersebut terlontar begitu saja.

“John, jangan, kau harus menyelamatkan Keltia!” Phantasm mencoba mengingatkanku.

“Diam! Cukup dengan drama ini. Aku suka tawaranmu, anak manusia. Roylt! Lepaskan bocah itu, namun jangan biarkan ia mendekat. Ia harus menyaksikan belahan jiwanya mati.”

Aku tahu, mungkin ini adalah cara terbodoh untuk mati, namun ramalan tersebut juga berkata demikian. “Darah anak manusia harus ditumpahkan,” aku tahu benar semua konsekuensinya, dan aku memilih jalan ini. Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Keltia

“Sekarang, kemarilah, ucapkan salam perpisahan pada sahabat kecilmu. Ah, sudah kubilang aku akan menghabisi kalian sebelum matahari terbit.”

Aku menatap mata Phantasm dan berusaha membuatnya percaya bahwa aku tidak tolol, namun hanya khawatir yang muncul dalam pancaran matanya.
“Aku mencintaimu, Fantine.”

Setelah itu, aku merasakan dadaku tertembus oleh sebuah benda tajam. Kuku Harish telah menusuk tepat dibagian jantungku. Samar-samar kudengar Phantasm berteriak, dan Harish tertawa. Sekarang, aku berfokus untuk menghadapi ajalku.

Penglihatanku mulai kabur, satu persatu anggota tubuhku mulai kehilangan fungsinya. Belati ini, masih berpendar. Mungkin aku dapat melakukan sesuatu sebelum tanganku juga kehilangan fungsinya. Matahari belumlah terbit, Harish.

Dengan tenaga terakhirku, kutancapkan belati, dan sebagian darahku menetes kejantung Harish. Semua hening untuk sesaat. Harish mematung merasakan nyeri yang begitu hebat di dadanya, dan kemudian meraung-raung kesakitan.

Belati tersebut kini bersinar dengan sangat terang, disusul terurainya tubuh Harish menjadi butiran-butiran. Phantasm berlari ke arahku, syukurlah penglihatanku belum juga hilang. Dia menangis lalu meraih tanganku.
“Tolong jangan tinggalkan aku, bertahanlah”

Aku tersenyum,
“Namun cinta mampu patahkan
Ingatan yang hilang akan kaudapatkan”
Aku melengkapi rangkaian ramalan yang belum selesai itu.
“Kita bebas menulis cerita kita sendiri, selama akhirnya masih tepat.”

Kulihat Keltia sudah menjadi tempat yang dahulu pernah diceritakan Phantasm. Sang ratu benar-benar hebat. Tunggu, aku sedang berada di Keltia atau di surga? Seingatku, aku sedang meregang nyawa.

Tapi, Phantasm masih tetap memelukku sambil menangis. Artinya aku masih hidup. Aku berusaha bangkit, dan ajaib! Tidak ada bekas luka di dadaku. Ini pasti berkat belati sang Ratu.

Segaris senyum tertoreh di wajah Fantine, ya mulai sekarang aku akan memanggilnya demikian, dan kau pasti tahu bukan apa yang akan terjadi selanjutnya? Tepat sekali sobat! Perpisahan.

Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Kami sadar cinta kami tak akan pernah bisa bersatu, kami berada di lain dimensi.

“Kau bisa tinggal disini dan hidup bersamaku, kita akan menjadikan Keltia dunia yang damai.”

“Maaf Fantine, aku mencintaimu, namun aku juga memiliki kehidupan diduniaku. Jangan menangis, suatu saat kita akan bertemu lagi, yang kau butuhkan hanya percaya.”

Ratu telah pergi, dan kini Fantine lah yang harus mengatur Keltia. Aku tahu, mungkin kisah cintaku memang tragis. Namun aku bahagia pernah bertemu dengan gadis sehebat Fantine.

Diantar oleh seluruh Keltian, dan juga Ratu mereka yang amat jelita, aku kembali dengan menggunakan mesin yang dibuat oleh Harish

Aku percaya, suatu saat nanti kami akan bertemu lagi, mungkin di kehidupan yang akan datang. Selama menunggu, aku akan terus dan terus mencintainya, sampai kesempatan itu datang lagi.

The End ^^

Makasih yang udah setia baca:)

– Elaine Hartanto –

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s